News

  • 2020 Peluncuran resmi platform pemetaan bencana di Filipina membawa semangat ‘Bayanihan’ dan ‘Gotong-royong’ untuk solidaritas kawasan!

    MapaKalamidad.ph, sebuah platform respon dan manajemen bencana yang gratis dan terbuka di Filipina, telah diluncurkan pada 10 September 2020 dalam webinar virtual berjudul “Digital Bayanihan! Social Media for Humanitarian Response” (Gotong-Royong Digital! Media Sosial untuk Respon Kemanusiaan”). Platform ini menggabungkan laporan crowdsourcing (urun-daya) dan validasi instansi pemerintahan untuk memetakan kejadian banjir secara real-time.  

    Dalam sambutan pembukanya, Joseph Curry dari USAID Office of Foreign Disaster Assistance mengatakan,

    “Selain mengandalkan pemerintah sebagai sumber otoritas dalam kerugian dan kebutuhan, kita juga mengakui bahwa mereka yang terdampak mempunyai informasi terkini serta memainkan peranan penting. MapaKalamidad.ph menambah dimensi baru pada data dan pengumpulan informasi dengan memberdayakan masyarakat untuk langsung melaporkan bencana, kondisi kritis dan kerugian dalam lingkungan sekitar mereka melalui aplikasi media sosial dan aplikasi mobile. Dengan semangat gotong-royong, MapaKalamidad.ph menjadi alat yang bisa digunakan siapapun dalam respon bencana, dan berpotensi menghubungkan setiap barangay (tingkat administrasi di FIlipina) ke tingkat yang tertinggi.”

    Dikembangkan oleh Yayasan Peta Bencana (Disaster Map Foundation), organisasi yang berbasis di Asia Tenggara, platform ini menyerupai platform pemetaan berbasis crowd-sourcing yang sudah memenangkan penghargaan, yaitu PetaBencana.id di Indonesia. Platform PetaBencana.id telah digunakan oleh jutaan pengguna sejak tahun 2013, untuk membantu mengambil keputusan di masa kritis, tentang keamanan dan navigasi saat banjir di Indonesia. Platform ini juga diadopsi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam memonitor kejadian bencana, meningkatkan waktu respon, and membagikan informasi darurat di masa kritis kepada warga. Setelah terbukti dan tidak diragukan dalam pengumpulan, pembagian, dan visualisasi data berbasis masyarakat mengurangi risiko bencana dan mendukung upaya bantuan, software kami sekarang telah dikembangkan untuk mendukung pemetaan bencana real-time di Filipina. 

    Dengan menampilkan pembicara seperti Gil Francis Arevalo dari the UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs, Bryan Damasco dari the Humanitarian OpenStreetMap Team FIlipina, and Michael Vincent Mercardo dari the Center of Disaster Preparedness, webinar ini berfokus pada peran utama respon berbasis masyarakat dalam upaya mitigasi dan adaptasi.

    Merespon peluncuran MapaKalamidad.ph, Asec Casiano C. Monilla dari Kantor Pertahanan Sipil (Office of Civil Defense) FIlipina mengatakan,

    “Kontribusi media sosial dan ekspansi ruang demokrasi dan partisipasi publik dalam kegiatan pemerintahan tidak boleh diabaikan. Telah terbukti berulang kali bahwa pengurangan risiko dan manajemen bencana yang berhasil bergantung pada dukungan publik; kepemilikan bersama dalam konsep aman, kesiapsiagaan dan ketahanan. [MapaKalamidad.ph], yang menampilkan informasi yang terverifikasi dan terpercaya melalui crowdsourcing media sosial, adalah sebuah perkembangan yang disambut baik. Pemetaan terbuka dan pembagian informasi melalui crowdsourcing memungkinkan masyarakat tidak hanya menjadi penonton dan penerima sistem dan produk, tapi juga partisipan dalam proses mendukung masyarakat dan pemerintah melaporkan dan merespon keadaan darurat. Ini dapat diartikan menjadi kehidupan yang lebih aman, properti dan mata pencaharian terlindungi, dan keberlangsungan pembangunan terjaga.

    Saat ini, warga di Pampanga dan Quezon City dapat mengirimkan laporan banjir tanpa menampilkan identitas dengan men-twit #banjir atau #baha @mapakalamidad, mengirim pesan Facebook ke @mapakalimad, atau mengirim pesan telegram ke @kalamidadbot. Instansi manajemen bencana pemerintah juga memonitor peta untuk menentukan situasi bencana dan respon terhadap kebutuhan warga.

    Dengan model ENSO terkini yang mengindikasikan tren pada kondisi La Nina, hujan dengan intensitas lebih tinggi diprediksi terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Kami ingin mengingatkan semua untuk cek https://mapakalamidad.ph untuk informasi terkini dan tetap siaga!

    MapaKalamidad.ph adalah bagian dari Program USAID ASEAN Regional and National Capacity Development for Hazard Monitoring, Early Warning, and Disaster Management Decision Support. Sebagai bagian dari proyek PhilAWARE Pacific DIsaster Center’s, proyek ini merepresentasikan kolaborasi multi-partner antara Philippines Office of Civil Defense (OCD), the Philippines National Disaster Risk Reduction and Management Council (NDRRMC), Pacific Disaster Center (PDC), Yayasan Peta Bencana, dan Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT). Proyek ini terwujud berkat kolaborasi dengan mitra pelaksana Quezon City Disaster Risk Reduction Management Office (QCDRRMO) dan Pampanga Disaster Risk Reduction Management Office (PDRRMO), serta mitra data Twitter dan Mapbox.

  • 2020 Hujan lebat membuat Jakarta tergenang, PetaBencana.id menjadi platform resmi untuk berbagi informasi warga dalam mengurangi risiko

    Warga berbagi informasi melalui PetaBencana.id dalam mendukung respon dan bantuan saat hujan ekstrem membuat Jakarta tergenang untuk keempat kalinya tahun ini. Selama kurang dari 24 jam. lebih dari 800 warga mengirim laporan banjir ke PetaBencana.id.

    Dua siklon tropis memicu hujan deras di seputar pulau Jawa, merendam ibukota Jakarta dan wilayah sekitarnya untuk keempat kalinya tahun ini.

    Mengacu pada Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), rangkaian banjir yang melanda ibukota selama dua bulan terakhir adalah akibat dari perubahan iklim. Temperatur rerata di Indonesia memuncak di 2019, dengan Jakarta mengalami kenaikan temperatur tahunan 1,4 kali lebih tinggi dari tren global. BMKG mencatat curah hujan 278 milimeter dalam 24 jam, yang dikategorikan sebagai cuaca ‘hujan eksrem’ dimana kota ini dapat dikatakan menerima curahan hujan satu bulan hanya dalam satu hari.

    Banjir telah mengganggu lalu lintas dan jadwal communiter lines selama 2 hari berturut-turut, menggenangi rumah sakit nasional, dan memutus aliran listrik bagi 1.600 gardu. Wargapun tetap aktif mencari informasi tentang situasi banjir untuk mengambil keputusan keselamatan dan respon. Di tengah maraknya misinformasi, BNPB merekomendasikan PetaBencana.id sebagai platform informasi resmi yang digunakan untuk mengurangi risiko secara kolektif.

    Ribuan warga berkontribusi pada pemetaan banjir berbasis urun-daya (crowdsource) dengan mengirimkan laporan banjir ke PetaBencana.id; mereka saling menginformasikan ketinggian air banjir, kerusakan infrastruktur, dan upaya respon. PetaBencana.id mengalami 26.000% kenaikan aktivitas karena warga yang aktif memonitor website peta ini untuk memahami situasi banjir, menghindari wilayah tergenang, dan membuat keputusan keselamatan dan respon. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta memonitor peta untuk merespon kebutuhan warga, berkoordinasi, dan juga mengupdate wilayah terdampak banjir secara real-time pada peta.

    Pada tanggal 25 Februari, Metro TV menampilkan PetaBencana.id pada segmen breaking news, dan menyarankan warga untuk memantau platform open source ini untuk tetap ter-update dengan situasi banjir dan memitigasi risiko. Google Maps juga mengacu kepada PetaBencana.id sebagai informasi yang terverifikasi. Dengan pemberitaan media yang membagikan platform ini sebagai referensi, ribuan warga lalu memakai media sosial untuk berbagi info peta banjir real-time dan menanggapi kemudahannya untuk digunakan serta manfaatnya dalam membantu navigasi menghindari wilayah tergenang.

    Google Maps menjadikan PetaBencana.id sebagai referensi sumber informasi banjir

    Dengan Banjir yang telah mengganggu aktivitas di perkotaan, warga tetap membagikan informasi bencana untuk membantu respon dan upaya bantuan. Agus Wibowo, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengajak warga untuk membagikan laporan banjir melalui PetaBencana.id, dan menggarisbawahi pentingnya data yang dikumpulkan dari warga untuk ditampilkan dan dibagikan dalam mengurangi risiko bencana.

    Yayasan Peta Bencana berterima kasih kepada warga Indonesia yang terus mengirimkan informasi kritikal bencana, dan mengapresiasi peran utama warga dalam membantu sesama, instansi pemerintah, tim respon, dan peneliti dalam mengembangkan strategi adaptasi iklim.

    Sebagaimana prediksi BMKG bahwa hujan ekstrem akan berlanjut hingga Maret, Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG, menekankan pentingnya memperbaiki koordinasi dan sinergi antar-pihak dalam upaya adaptasi iklim.

    Warga di seluruh Indonesia bisa mengirim laporan banjir real-time dengan men-twit @banjir @petabencana, mengirim pesan Facebook ke @petabencana.id, atau mengirim pesan Teleram ke @bencanabot. Dan jangan lupa untuk cek https://petabencana.id untuk mendapatkan informasi terkini agar tetap selamat!

    PetaBencana.id adalah bagian dari USAID-BNPB InAWARE: Proyek Manajemen Bencana Peringatan Dini dan Penguatan Kapasitas Dukungan Keputusan di Indonesia; mitra pelaksana BNPB yang didukung oleh U.S. Agency for International Development (USAID). Proyek ini terselenggara berkat kolaborasi dengan mitra proyek yaitu Pacific Disaster Center University of Hawaii dan Humanitarian Openstreetmap Team (HOT), serta Palang Merah Indonesia; mitra data termasuk MapBox, Twitter, qlue, dan PasangMata detik.com.

  • 2020 PetaBencana.id ekspansi nasional dengan #112Challenge se-Indonesia!

    Dalam rangka peluncuran nasional PetaBencana.id, lebih dari 3.376 warga di seluruh Indonesia berpartisipasi dalam #112Challenge, sebuah pelatihan kesiapsiagaan dikemas secara unik dalam satu hari.

    Dalam rangka peluncuran nasional platform manajemen bencana PetaBencana.id, Yayasan Peta Bencana dan BNPB, didukung oleh PLN and BRI, menggelar kegiatan #112Challenge, sebuah pelatihan kesiapsiagaan yang dikemas secara unik dalam satu hari. Lebih dari 125 organisasi dan 3.376 warga dari 17 provinsi di Indonesia berpartisipasi pada kompetisi se-Indonesia ini. dimana warga mensimulasikan laporan banjir real-time dan berbagi informasi via PetaBencana.id

    PetaBencana.id adalah sebuah platform yang terbuka dan gratis, yang menyediakan informasi bencana secara real-time dan transparan bagi warga dan instansi pemerintah, dalam upaya mengurangi risiko bencana dan meningkatkan efisiensi respon bencana. Platform online ini menggunakan metode crowdsource untuk mengumpulkan infomrasi bencana dari media sosial yang dikirimkan oleh warga dari lokasi kejadian, dimana terdapat informasi terkini, dan menampilkan infomrasi tersebut dalam peta berbasis website.

    Dalam sambutan pada peluncuran resmi platform ini, Doni Monardo Kepala BNPB mengatakan:

    “PetaBencana.id akan menjadi kanal utama dalam komunikasi bencana yang interaktif antara pemerintah dan warga. Dengan menyediakan akses bagi warga untuk mengirimkan laporan bencana real-time via media sosial, platform ini dapat mendukung respon lebih cepat dan mengurangi risiko.”

    Dalam event kesiapsiagaan bencana tersebut, lebih dari 125 sekolah, BPBD, NGO, dan bisnis di Indonesia secara bersamaan memasang mural bertemakan bencana di lingkungan masing-masing sebagai bagian dari #112Challenge. Mereka mengajak teman, tetangga, dan komunitas sekitarnya untuk mengambil gambar dengan mural, lalu posting #banjir di media sosial, dan mengirim laporan simulasi ke PetaBencana.id. Sepanjang hari pelaksanaanya, PetaBencana.id menerima lebih dari 3.376 laporan dari organisasi-organisasi tersebut yang berkompetisi untuk melatih jutaan warga lainnya untuk berbagi informasi bencana secara real-time.

    Sekarang semua warga Indonesia bisa mengirimkan laporan bencana secara anonim dengan men-twit @petabencana, mengirim pesan Facebook ke @petabencana atau pesan telegram ke @bencanabot. Instansi pemerintah juga memonitor peta ini untuk menentukan situasi dan respon kebutuhan warga sebagai bagian dari komunikasi dua arah; mereka juga bisa meng-update peta akan status bencana di suatu wilayah.

    Menanggapi peluncuran nasional platform ini, Agus Wibowo, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan,

    “Transparansi platform ini menyediakan warga, organisasi komunitas, organisasi kemanusiaan, dan instansi pemerintah akses terbuka terhadap informasi kritikal yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan, dan membangun kolaborasi dan koordinasi untuk ketangguhan bencana di Indonesia.”

    Sejak diinisiasi tahun 2013 (sebagai PetaJakarta.org), PetaBencana.id telah digunakan oleh jutaan warga untuk membuat keputusan dalam upaya keselamatan dan bernavigasi ketika terjadi banjir di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Platfom ini telah menerima berbagai macam penghargaan, termasuk pernghargaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) UNPSA Award 2019. Pada Laporan Bencana Dunia tahun 2015 yang dibuat Palang Merah Internasional, proyek ini direkomendasikan menjadi model pelibatan masyarakat untuk respon bencana.

    Dengan bukti tersebut, tidak diragukan lagi bahwa pengumpulan dan pembagian data berbasis komunitas dapat mengurangi risiko bencana dan membantu upaya bantuan, dan tahun 2020 platform ini berekspansi untuk membantu seluruh warga Indonesia. Akhir tahun ini, PetaBencana.id juga akan menambahkan mekanisme laporan bencana baru, seperti gunung api, gempa bumi, angin kencang, kebakaran hutan, dan kabut asap.

    PetaBencana.id adalah bagian dari USAID-BNPB InAWARE: Proyek Manajemen Bencana Peringatan Dini dan Penguatan Kapasitas Dukungan Keputusan di Indonesia; mitra pelaksana BNPB yang didukung oleh U.S. Agency for International Development (USAID). Proyek ini terselenggara berkat kolaborasi dengan mitra proyek yaitu Pacific Disaster Center University of Hawaii dan Humanitarian Openstreetmap Team (HOT), serta Palang Merah Indonesia; mitra data termasuk MapBox, Twitter, qlue, dan PasangMata detik.com; dan sponsor pendanaan untuk #112Challenge, PT. PLN dan Bank Rakyat Indonesia. 

  • 2020 Banjir, Bot, dan Gotong-royong! @america mengadakan pra-event eksklusif #112Challenge!

    Sebagai persiapan acara peluncuran nasional PetaBencana.id, @america mengadakan sesi interaktif pada 5 Februari: “Banjir, Bots, dan Gotong Royong: Memperkuat Partisipasi Publik dalam Adaptasi Iklim di Indonesia”. 

    Dibuka oleh Jason Seuc, Deputi DIrektur Urusan Lingkungan USAID, sesi ini fokus pada pentingnya penyebaran informasi berbasis komunitas ketika terjadi bencana.

    Harlan Hale, Regional Advisor US Agency of International Development Office for Foreign Disaster Assistance (USAID OFDA , menyampaikan pentingnya warga melapor untuk mendukung respon dari instansi pemerintah dan organisasi kemanusiaan. Warga di lapangan seringkali memiliki informasi terkini – pengetahuan warga lokal dan jaringan yang terhubung oleh media sosial akan menyediakan sumber data dalam resolusi yang belum pernah ada untuk mitigasi risiko di perkotaan.

    Untuk mentransformasikan ‘noise’ di media sosial menjadi informasi yang dapat diubah menjadi aksi, Nashin Mahtani, direktur Yayasan Peta Bencana, membagikan bagaimana platform PetaBencana.id menggunakan chatbot untuk berkomunikasi dengan warga dalam mengkonfirmasi kejadian banjir.

    Dengan digunakannya perangkat, software, dan aplikasi terkini oleh pemerintah dan NGO untuk identifikasi dan manajemen risiko bencana, Maryanto, S. Kom, Kepala Bidang Manajemen Data dan Sistem Informasi BNPB sependapat akan pentingnya berbagi dan integrasi data.

    Event ini disiarkan langsung di beberapa chapter AtAmerica seperti ITB, UMY, dan UIN. Peserta bisa ikut berdiskusi, bertanya secara langsung tentang verifikasi laporan, privasi dan etika dalam pengumpulan infomrasi, dan kapasitas platform saat mengalami intensitas laporan dan kunjungan yang tinggi.

    Selain itu, peserta juga melakukan simulasi laporan banjir real-time, yang dipandu dengan live-demo oleh Hotniida AMW Sinambela, Koordinator Operasi Riset Yayasan Peta Bencana.

    Dalam persiapan peluncuran nasional PetaBencana.id yang akan diadakan 11 Februari, @america mengadakan event eksklusif sebelum berpartisipasi pada #112Challenge. #112Challenge adalah event kesiapsiagaan bencana berskala nasional, dimana lebih dari 125 organisasi di Indonesia akan berpartisipasi dalam kompetisi nasional untuk meningkatkan kesadaran bencana. Pada 11 Februari, mural banjir 3D akan dipasang di lebih dari 125 lokasi di seluruh Indonesia. Organisasi peserta akan mengajak komunitas menggunakan mural untuk mempraktikkan pelaporan banjir via Twitter, Facebook, dan Telegram. @amerika adalah salah satu lokasi kegiatan, dan event tanggal 5 Februari memungkinkan peserta untuk mengikuti pre-event eksklusif dari #112Challenge! Jangan lupa untuk hadir di lokasi kegiatan 11 Februari untuk mendukung kotamu menjadi pemenang tantangan ini! Temukan lokasi kegiatan ini dengan mengcek peta pada link: info.petabencana.id/112challenge

    PetaBencana.id adalah bagian dari USAID-BNPB InAWARE: Proyek Manajemen Bencana Peringatan Dini dan Penguatan Kapasitas Dukungan Keputusan di Indonesia; mitra pelaksana BNPB yang didukung oleh U.S. Agency for International Development (USAID). Proyek ini terselenggara berkat kolaborasi dengan mitra proyek yaitu Pacific Disaster Center University of Hawaii dan Humanitarian Openstreetmap Team (HOT), serta Palang Merah Indonesia; mitra data termasuk MapBox, Twitter, qlue, dan PasangMata detik.com.

  • 2020 PetaBencana.id berkolaborasi dengan NASA, BNPB, Instansi Pemerintah, dan warga dalam respon banjir tahun 2020

    Warga dan instansi pemerintah membagikan informasi banjir secara real-time di platform PetaBencana.id selama banjir di Jakarta Bulan Januari 2020. Laporan urun-daya pada platform ini telah mendukung upaya respon, perencanaan, dan analisis.

    Pada Bulan Januari 2020, Jakarta mengalami curah hujan ekstrem tinggi yang dampaknya tidak mampu diatasi oleh infrastruktur kota. Banjir cukup parah menggenangi sebagian besar wilayah kota, berakibat jatuhnya puluhan korban jiwa dan ribuan warga harus mengungsi.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengaitkan curah hujan tinggi yang tidak biasa tersebut dengan konvergensi pola angin, dan sebagai peringatan akan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem akibat dari perubahan iklim. BMKG mencatat curah hujan setinggi 377mm/jam, dimana ini merupakan yang tertinggi dialami Jakarta sejak 1866.

    Mendapati banjir yang menutup akses jalan, menghentikan operasional salah satu bandara, hingga memutus aliran listrik, jutaan warga masyarakat mencari dan membagikan informasi terkini melalui kanal-kanal media sosial. Ribuan warga mengirimkan laporan banjir ke PetaBencana.id, saling berbagi informasi tentang tingkat keparahan banjir, kerusakan infrastruktur, dan tindakan tanggap bencana. PetaBencana.id mengalami kenaikan aktivitas sebesar 24.000% karena aktifnya warga dalam memantau peta pada situs yang dimanfaatkan untuk memahami situasi banjir, menghindari wilayah banjir, dan mengambil keputusan terkait keselamatan dan respon. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD DKI Jakarta) juga memantau peta untuk merespon kebutuhan warga, mengkoordinasikan respon tanggap darurat, dan memutakhirkan informasi wilayah yang terdampak banjir pada peta secara real-time.

    Agus Wibowo, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), meminta masyarakat untuk melapor banjir melalui PetaBencana.id, menekankan pentingnya berbagi informasi dan tanggap bencana berbasis masyarakat. 

    Kepala Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB, Bambang Surya Putra, mengungkapkan bahwa PetaBencana.id sangat bermanfaat bagi tim BNPB dalam memantau kejadian bencana dan memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat.

    Data banjir dari PetaBencana.id juga digunakan oleh NASA untuk mengkalibrasikan peta banjir satelit dengan observasi lapangan dari hasil urun-daya dalam mendukung analisis banjir. Pada artikel yang dilansir oleh NASA, Dr. Sang-Ho Yun, pimpinan respon bencana dalam tim pencitraan cepat dan analisis NASA di laboratorium Propulsi Jet, menjelaskan pentingnya menguatkan data satelit dengan data lapangan untuk mendapatkan peta tingkatan banjir. “Ini pertama kalinya kami dapat secara cepat menghasilkan peta proksi banjir dari banyaknya citra satelit yang dikalibrasikan dengan observasi lapangan,” kata Yun. “Hal ini sangat penting dalam pemetaan tingkatan banjir pada wilayah perkotaan.”

    Semangat gotong-royong yang ditampilkan dalam kondisi warga yang sulit merupakan sebuah pembuktian dari kekuatan penyebaran informasi berbasis masyarakat yang mendukung respon dan perencanaan dalam berbagai konteks. Yayasan Peta Bencana berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang terus membagikan informasi bencana, dan mengapresiasi peran masyarakat yang bahu-membahu menolong warga sekitar, instansi pemerintah, relawan, dan pemeliti dalam mengambangkan strategi adaptasi perubahan iklim. 

    Hujan lebat diprediksi masih akan banyak terjadi selama musim monsun. Warga Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung bisa mengirimkan laporan banjir secara real-time dengan men-twit #banjir @petabencana, kirim pesan Facebook messenger ke @petabencana.id, atau kirim pesan singkat Telegram ke @bencanabot. Pantau terus https://petabencana.id untuk informasi terkini dan tetap siaga!

    Agus Wibowo, Kapusdatinkom BNPB (kiri), Ayu Kartika Dewi dari Kantor Staf Presiden (tengah), dan PERMIAS (Persatuan Pelajar Indonesia di Amerika Serikat) (kanan) merekomendasikan warga untuk melaporkan informasi banjir melalui PetaBencana.id selama banjir di Jakarta Bulan Januari 2020.

    Jakarta Smart City menggunakan data dari PetaBencana.id untuk aplikasi Pantau Banjir, memanfaaatkan PetaBencana.id sebagai peta dasar untuk menambahkan informasi lokasi pengungsian. 

    PetaBencana.id dijalankan oleh Yayasan Peta Bencana sebagai platform yang gratis dan transparan dalam tanggap darurat dan manajemen bencana pada kota-kota Besar di Asia Selatan dan Asia Tenggara. PetaBencana.id adalah bagian dari USAID BNPB InAWARE: Proyek Manajemen Bencana Peringatan Dini dan Penguatan Kapasitas Dukungan Keputusan di Indonesia. 

  • 2019 Nikolaj Coster-Waldau mempersembahkan PetaBencana.id di Royal Albert Hall

    Pada tanggal 14 Desember 2019, aktor Nikolaj Coster-Waldau, yang dikenal karena perannya dalam Game of Throne, mempresentasikan PetaBencana.id di Royal Albert Hall, London, dalam sebuah acara yang dipandu oleh John Legend. Acara ini merupakan penghargaan dari Global Citizen Prize, sebuah acara yang memberikan penghargaan kepada individu-individu yang telah melakukan upaya-upaya untuk memberantas kemiskinan ekstrim. Cisco Youth Leadership Award didirikan pada tahun 2018 sebagai penghargaan tahunan untuk mengakui dan mengangkat anak muda yang memberikan dampak positif bagi dunia, sebagai cara untuk menunjukkan dampak yang diberikan oleh anak muda dalam mencapai tujuan bersama. Nashin Mahtani, direktur Yayasan Peta Bencana, terpilih sebagai salah satu dari lima finalis Global Citizen Cisco Youth Leadership Award yang bergengsi.

  • 2019 PetaBencana.id menerima penghargaan 2019 Better Together Challenge!

    Diselenggarakan oleh World Culture Open, Better Together Challenge 2019 mengundang para pemikir, aktivis, pembuat perubahan, ilmuwan, dan kreatif dari seluruh dunia untuk berbagi beragam proyek yang membahas beberapa masalah sosial yang paling mendesak saat ini. Diadakan di lokasi Olimpiade Musim Dingin 2018 yang bersejarah di PyeongChang, pertemuan selama 3 hari ini dihadiri oleh lebih dari 300 orang. Tantangan ini menyediakan panggung terbuka di mana 30 finalis, yang dipilih dari lebih dari 1200 proyek dan 122 negara, diundang untuk berbagi cerita mereka dalam format kontes yang unik. Berdasarkan voting publik dari ratusan penonton dan panel juri khusus, 6 proyek dianugerahi penghargaan final Better Together Challenge 2019. Kami sangat senang untuk berbagi bahwa PetaBencana.id adalah salah satu pemenang akhir, dianugerahi dengan hadiah juara 2!

    Hadiah juara pertama diberikan kepada finalis asal Korea, Sangho Yi, pendiri Mand.ro, yang menggunakan teknologi cetak 3D untuk mengembangkan prostetik elektronik yang terjangkau bagi para penderita amputasi. Pemenang penghargaan lainnya termasuk Eseyam Nyador, pendiri Miss Taxi, layanan taksi yang dikemudikan oleh perempuan di Ghana; Momal Mushtaq, pendiri The Freedom Traveller; Jiyeoung Lee, yang melestarikan dan menyebarkan kesadaran tentang hutan di Gotjawal; Camilo Herrera, pendiri Litro de Luz, yang mengembangkan infrastruktur untuk masyarakat di zona konflik untuk mengurangi eksklusi listrik; dan Abdul Wahab dan Haejin Kim dari Help Syria, organisasi yang membantu para pengungsi Suriah.

    Para finalis berbagi pengalaman dan proyek yang beragam, termasuk program peningkatan keterampilan di masyarakat yang terkena dampak konflik, memberdayakan penduduk dengan informasi hak atas tanah dan properti untuk mengurangi konflik lahan di Uganda, metode produksi madu yang berkelanjutan untuk memberdayakan masyarakat pedesaan di Zambia, mengembangkan teknologi yang dapat diakses untuk mendukung pertanian dan ketahanan pangan di Afrika Timur, dan masih banyak lagi.

    Acara yang berlangsung selama 3 hari ini mencakup lokakarya dan ceramah oleh Dave Hakkens (dinobatkan sebagai salah satu Inovator di bawah 35 tahun di Eropa versi MIT Technology Review 2017), Raed Alsaleh (Kepala organisasi Helm Putih yang memberikan bantuan kemanusiaan di Suriah, dan dinobatkan sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh versi majalah TIME pada tahun 2017), Wali Kota Pyeongchang Han Wang-Gi, Presiden Komite Olimpiade Internasional Thomas Bach, dan masih banyak lagi.

    Kami bersyukur mendapat kesempatan untuk berbagi cerita dan belajar dari begitu banyak proyek yang menginspirasi di seluruh dunia! Kami merasa terhormat atas penghargaan ini dan bersyukur dapat berbagi penghargaan ini dengan semua mitra proyek termasuk USAID Office of Foreign Disaster Assistance (OFDA), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pacific Disaster Center (PDC), Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT), dan juga dengan semua penduduk Indonesia dan kontributor platform PetaBencana.id untuk mengurangi risiko bersama!

    PetaBencana.id adalah sebuah platform yang dijalankan oleh Yayasan Peta Bencana sebagai platform gratis dan transparan untuk tanggap darurat dan penanggulangan bencana di kota-kota besar di Asia Selatan dan Asia Tenggara. PetaBencana.id merupakan bagian dari USAID BNPB InAWARE: Proyek Peningkatan Kapasitas Peringatan Dini dan Pendukung Keputusan Penanggulangan Bencana di Indonesia.

  • 2019 Yayasan Peta Bencana Berkolaborasi dalam Inisiasi Pengurangan Risiko yang akan datang di Filipina.

    Sebagai bagian dari “ASEAN Regional Disaster Management Early Warning and Decision Support Capacity Enhancement Project”, tim Peta Bencana telah bekerja selama seminggu bersama mitra USAID, Pacific Disaster Center (PDC), dan Humanitarian OpenStreetMap Team(HOT) dalam mengawali inisiasi pengembangan platform pemetaan kebencanaan berbasis urun daya di Filipina. Inisiasi ini telah resmi diluncurkan tanggal 23 Juli 2019, dibuka dengan pertemuan pembuka yang dihadiri lebih dari 30 institusi termasuk pemerintah, lembaga non-pemerintah, dan sektor swasta.

    Sejak tahun 2013, PetaBencana.id (sebelumnya PetaJakarta.org) telah membuktikan bahwa pengumpulan dan penyebaran data berbasis masyarakat telah mengurangi risiko bencana dan membantu dalam upaya respon bantuan bencana. Filipina sendiri memiliki kemiripan karakteristik dengan Indonesia, dimana PetaBencana.id berhasil menjadi platform pemetaan bencana berbasis urun daya. Secara geografis, Filipina juga berada di daerah cincin api, dan seperti negara ASEAN lainnya juga menghadapi peningkatan cuaca ektrem dan tidak terprediksi akibat perubahan iklim. Taifun, banjir, dan tanah longsor telah membawa kerusakan, dan Filipina adalah satu dari sekian banyak negara yang terdampak secara sosial-ekonomi akibat kejadian bencana tersebut.

    Kami melihat persamaan utama antara Indonesia dan Filipina adalah semangat untuk saling membantu ketika bencana – dikenal sebagai gotong-royong di Indonesia dan bayanihan di Filipina. Semangat bahu-membahu yang muncul ketika kejadian bencana, ditambah dengan fakta bahwa Filipina memegang rating tertinggi penggunaan media sosial di dunia, menciptakan kondisi ideal untuk mengembangkan platform untuk berbagi informasi secara real-time untuk membangun kapasitas civic co-management, meningkatkan koordinasi antara masyarakat dengan pemerintah, dan mempercepat respon saat bencana.

    Kami sangat terkesan dengan sambutan dari institusi terkait kebencanaan di FIlipina seperti Office of Civil Defense (OCD), the National Disaster Risk Reduction and Management Council (NDRRMC), dan organisasi lainnya, baik pemerintah dan non-pemerintah, selama kegiatan peluncuran inisiasi tersebut. Kami sangat menantikan kerjasama dengan mitra dan masyarakat Filipina untuk bersama-sama mengurangi risiko di kawasan ASEAN! 

  • 2019 Petabencana.id menerima penghargaan United Nations Public Service Award dalam Memastikan Pendekatan yang Terintegrasi pada Institusi Sektor Publik

    Pada 21 Mei 2019, PetaBencana.id dianugerahi penghargaan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu United Nations Public Service Award (UNPSA) pada kategori “Memastikan pendekatan yang terintegrasi pada institusi sektor publik”. Penghargaan ini diberikan kepada PetaBencana.id bersama mitra pelaksana pemerintah Indonesia dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

    UNPSA dikenal sebagai penghargaan internasional yang paling bergengsi dalam lingkup pekerjaan sektor publik. Dalam pernyataan yang dibuat Departemen Ekonomi dan Urusan Sosial PBB, “penghargaan ini mengapresiasi pencapaian kreatif dan kontribusi institusi pelayanan publik yang mengarah pada administrasi publik yang lebih efektif dan responsif bagi negara-negara di seluruh dunia.” Kompetisi ini dilaksanakan setiap tahun dengan tujuan mempromosikan organisasi-organisasi yang berperan luar biasa untuk dijadikan sebagai contoh peran pentingnya pelayanan publik bagi masyarakat di seluruh dunia.

    “Akibat pola cuaca yang semakin intensif dan tidak bisa diprediksi, kota-kota di Indonesia dihadapkan pada tantangan cuaca ektrem secara reguler. Kurangnya akses untuk data real-time dan terverifikasi mengurangi informasi dan kemampuan untuk membuat keputusan dalam perencanaan dan respon bencana, yang berujung pada manajemen sumber daya yang tidak efektif dan konflik. Dengan menyediakan informasi bencana yang gratis dan real-time, lalu membuatnya aman dan mudah untuk dibagikan, PetaBencana.id meningkatkan kapasitas seluruh masyarakat untuk berpartisipasi bersama dalam pengambilan keputusan.”  

    Selanjutnya, Yayasan Peta Bencana akan berpartisipasi di dalam United Nations Public Service Forum di Baku, Azerbaijan bulan Juni 2019. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari yang mencakup lokakarya, sesi pleno, dan upacara penganugerahan untuk tema tahun ini “Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan melalui efektivitas dalam Penyampaian Layanan, Inovatif Transformasi dan Institusi yang bertanggung jawab.”

    Yayasan Peta Bencana sangat berterimakasih atas penghargaan UNPSA ini. Kami juga berterimakasih kepada USAID dan BNPB, dimana proyek ini menjadi bagian dari InAWARE: Disaster Management Early Warning and Decision Support Capacity Enhancement Project in Indonesia. Bersama dengan mitra kami akan tetap berusaha menyediakan solusi yang terintegrasi, inklusif, dan efektif kepada masyarakat.  

  • 2018 Belajar dari Lombok dan Palu: Lokakarya multi-stakeholder untuk membangun kesiapsiagaan bencana dan mengurangi risiko bencana

    Gempa bumi berkekuatan 6,4 SR yang melanda pulau Lombok di Indonesia pada bulan Juli dan gempa bumi berkekuatan 7,5 SR yang melanda pulau Sulawesi pada bulan September, menyebabkan kehancuran, kerusakan, dan kerugian yang signifikan.

    Selama beberapa bulan terakhir, Yayasan Peta Bencana telah berbicara dengan para manajer bencana, tim tanggap darurat, kelompok relawan masyarakat, dan relawan mahasiswa yang mengalami kejadian atau terlibat langsung dalam pemulihan, untuk mempelajari tantangan terbesar yang dihadapi.

    Kesulitan dalam memberikan bantuan dan kesulitan untuk evakuasi, sebagian besar muncul karena kurangnya akses ke informasi yang tepat waktu. Kurangnya informasi terkini mengenai kondisi akses secara real-time menambah kebingungan dan risiko di pulau-pulau tersebut; tim tanggap darurat tidak dapat menjangkau tempat penampungan dan para korban karena gangguan akses yang tak terduga. Warga yang mencoba mengungsi juga menghadapi tantangan yang sama.

    Peta banjir real-time, PetaBencana.id, telah membuktikan bahwa berbagi informasi secara urun daya dapat mengurangi risiko bencana dan membantu upaya pertolongan. Menyadari nilai dari pengumpulan, pembagian, dan visualisasi data yang dipimpin oleh masyarakat, Yayasan Peta Bencana sekarang sedang berupaya memperluas peta tersebut untuk mendukung kejadian bencana lainnya, termasuk gempa bumi.

    Sebagai bagian dari upaya kami untuk mengembangkan platform pemetaan bencana untuk gempa bumi, Yayasan Peta Bencana telah terlibat dalam proses desain dan penelitian bersama dengan berbagai pemangku kepentingan. Pada bulan November 2018, kami mengadakan lokakarya penelitian/desain yang bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Lokakarya ini – yang mempertemukan para manajer darurat bencana pemerintah, jurnalis, mahasiswa, akademisi, kelompok sukarelawan, tokoh masyarakat, dan badan-badan iklim – memberikan wawasan multi-perspektif tentang strategi untuk tanggap darurat bencana dan kesiapsiagaan bencana karena para peserta berbagi keprihatinan, pengalaman, dan pengetahuan mereka yang unik.

    Untuk merangsang diskusi, lokakarya ini disusun dalam bentuk permainan yang didasarkan pada skenario nyata yang dialami selama gempa bumi baru-baru ini. Permainan ini berhasil mendorong para peserta untuk segera terlibat dalam mengevaluasi arus informasi, mengidentifikasi kesenjangan utama, dan mendiskusikan peluang untuk mendukung respons dengan menggunakan informasi urun daya.

    Kami sangat senang melihat bahwa di akhir lokakarya, kelompok pemangku kepentingan yang sangat berbeda (yang mengatakan bahwa mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk berbicara bersama) saling bertukar kontak; para peserta menyatakan penghargaan mereka atas kesempatan untuk belajar dari kelompok yang berbeda, dan sangat ingin membangun kapasitas untuk bekerja lebih erat dalam kesiapsiagaan untuk kejadian di masa depan.